Bangun Nikah ( 1 )

Beberapa minggu yang lalu terjadi perdamaian diantara klien saya dan isterinya dalam sengketa perkawinan di pengadilan Agama. Semua merasa gembira karena sengketa tidak dilanjutkan dan perkawianan menjadi utuh kembali.

Namun kemudian timbul problem ketika isterinya minta diadakan tajdidun nikah ( baca mbangun nikah kalau coro Jowo). Mestikah itu dilakukan?

Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 115 disebutkan:

“ Perceraian hanya dapat dilakukan didepan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. “

Hal yang sama dapat dilihat dalam pasal 39 ayat 1 UU Perkawinan  ( uu no. 1 th 1974 ) yang berbunyi:

“ Perceraian hanya dapat dilakukan didepan sidang Pengadilan setelah Pengadilan tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. “

Dengan memperhatikan aturan sebagaimana disebutkan tadi maka sebenarnya perceraian tidak pernah terjadi bila Pengadilan ( Agama ) tidak pernah memutuskan adanya perceraian antara suami / isteri, tidak peduli apakah pihak suami sudah pernah mengucapkan talak ataupun tidak.

Persoalan timbul karena menurut hukum syariah ( fiqh ) untuk sahya talak tidak diperlukan diucapkan dihadapan qodhi / hakim.

Sehingga meskipun secara resmi ikatan sebagai suami isteri tetap diakui keabsahannya oleh Negara dan tercatat dalam register perkawinan di Kantor Urusan Agama, namun secara agama bisa jadi sudah bukan merupakan suami isteri lagi karena talak sudah dijatuhkan  oleh suami. Padahal bila dilihat dalam undang undang  perkawinan jelas disebutkan dalam pasal 2 (1) :

“ Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing masing agamanya, dan kepercayaannya itu. “

Nah ini berakibat fatal, karena akan memunculkan problema baru bagi pasangan suami isteri tadi. Diantaranya adalah bisa jadi hasil hubungan antara suami isteri akan dianggap menjadi anak hasil perzinahan meskipun secara resmi mereka adalah pasangan suami isteri yang sah, dan anak maupun isterinya dlindungi oleh hukum..

Tentunya akan menimbulkan keragu raguan bagi suami dan isterinya dalam mengarungi kehidupan rumah tangganya. Lantas bagaimana?

Celah ini biasa ditutupi oleh masyarakat dengan cara tajdidun nikah ( coro Jawane mbangun nikah ).

Tunggu posting selanjutnya….

This entry was posted on Saturday, February 26th, 2011 at 1:36 am and is filed under Divorce/Perceraian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply